MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Bersuami dan Berambisi

Pravitasari
  Thursday, November 16, 2017

“Lu serius mau nikah, Ta?”

“Wow, I’m not expecting that you’re going to be married at this age.”

“What…? why…?”

adalah beberapa respon yang saya terima ketika memberikan undangan pernikahan pada beberapa teman. Menerima respon tersebut, saya pun tidak merasa heran apalagi tersinggung. Sebagai perempuan milenial sepertinya kami berbagi kisah gelisah yang serupa apalagi ketika mulai membicarakan pernikahan. Puluhan dekade telah berlalu, kesempatan bagi perempuan memang semakin terbuka. Mengenyam pendidikan tinggi bukan hal yang asing lagi bagi kami, bahkan untuk pergi ke bulan pun rasanya kami pun dipersilakan. Demikian seiring dengan akses pendidikan yang semakin terbuka, perempuan milenial lahir dan tumbuh dalam narasi bahwa ia memiliki kesempatan yang sama dengan para kawan prianya. 

Di saat yang bersamaan, ia juga masih terpapar stereotipe peran berdasarkan gender yang mengakibatkan munculnya standar ganda bagi perempuan. Perempuan berkarir itu bagus, tapi syaratnya ia harus juga pandai memasak, lihai membereskan rumah, dan cekatan mengurus anak tanpa atau dengan bantuan minimal dari suaminya. Belum lagi pada akhirnya usaha yang harus dilakukan oleh seorang perempuan tidak sebanding dengan apresiasi yang didapatkannya. Tak heran jika masih ada perempuan yang menganggap pernikahan sebagai wahana kremasi mimpi. Mimpi akan dibiarkan terbang dan melayang entah kemana. Jikalau pun tidak, setidaknya ia akan menurunkan ekspektasi pada salah satu peran yang dimilikinya. Kira-kira kalau disuarakan seperti ini: “Kenapa engga (tetap bekerja), tapi ya ga usah terlalu ambisius lah”. 

Menjelang pernikahan, saya mendapatkan pemberitahuan bahwa saya diberi kesempatan untuk mengikuti dua program pelatihan di Kuala Lumpur. Pergi pelatihan adalah hal yang biasa, hanya saja saat itu yang jadi isu adalah pelatihannya dimulai tepat 1 minggu setelah resepsi dan saya harus pergi selama satu bulan. Pada saat itu saya berpikir, bukan hal yang lumrah buat pengantin baru, khususnya perempuan, pergi meninggalkan pasangannya untuk waktu yang bukan cuma sehari dua hari. Saya sempat bingung, haruskah saya tolak kesempatan itu? ataukah berangkat untuk mengikuti pelatihan dengan konsekuensi harus melewatkan fase bulan madu setelah pernikahan. 

Kebimbangan itu saya sampaikan pada calon suami saya. Tentu sebelumnya perlu dipertimbangkan secara mandiri dulu manfaat dan konsekuensinya. Perempuan perlu memahami dirinya, apa mimpinya, menakar mana jalan yang harus ia tempuh guna mencapai mimpinya itu. Tanpa memiliki modal itu, tidak akan ada kompromi karena tidak ada yang bisa dijadikan bahan negosiasi. Saya menyampaikan kegelisahan saya dan ia pun menyampaikan pandangannya sebagai individu. Akhirnya, kami memilih untuk membatalkan tiket bulan madu kami agar saya bisa ikut pelatihan. 

../Desktop/Screen%20Shot%202017-10-17%20at%2015.28.41.png
Figure 1 bagan pertimbangan yang saya buat secara mandiri sebelum mengkomunikasikannya pada pasangan.

Pada titik itu saya berpikir bahwa sesungguhnya status pernikahan tidak menentukan nasib perempuan dan ambisinya. Namun, asumsi-asumsi yang diciptakan tanpa pernah mengutarakan dan mendiskusikannya lah yang tak jarang menjadi parasit bagi dirinya sendiri.  Situasinya memang bisa berbeda-beda bagi setiap perempuan dan pasangannya. Tapi setidaknya, perempuan tidak perlu menurunkan ekspektasinya sebelum ia benar-benar mencoba mengungkapkan isi hati dan kepalanya. 

../Desktop/17353427_10154912088710199_6750310759309847154_n.jpg
Figure 2 Membatalkan Bulan Madu Demi Mengikuti Stanford Go2Market Program di Kuala Lumpur

Tidak sampai disitu, kegiatan yang saya pilih ternyata meminta saya untuk cukup sering pergi ke luar kota. Saya perlu menerima bahwa situasinya tidak akan selalu ideal dan tidak menutup kemungkinan ada kalanya saya harus bisa berkompromi dan mengatur lagi prioritas. Tapi, kami dapat pastikan bahwa keputusan yang kami ambil tidak begitu saja didasarkan pada apa jenis kelamin kami. Melainkan karena pertimbangan objektif atas situasi dan kondisi yang terjadi saat itu seperti umpamanya pertimbangan kesehatan atau bahkan keuangan. 

Dari pengalaman seumur jagung ini saya memahami bahwa pernikahan bukan sebuah kemunduran. Bukan berarti saya serta merta mengkampanyekan pernikahan, tapi kita harus berhenti memandang pernikahan sebagai akhir bagi perempuan dan ambisinya. Sama halnya dengan kita harus berhenti mendorong perempuan untuk segera menikah tanpa memberitahu tentang pentingnya memilih pasangan yang tepat ketimbang perkara tenggat. Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan harus bisa menakar apakah calon pasangan hidupnya menghormati perempuan sebagai individu yang juga butuh raison d’etre selain dari yang sifatnya lahiriah. Pasangan yang mau mewarnai pernikahan dengan kerja tim ketimbang kompetisi. Pasangan yang senantiasa mengingatkan bahwa jarak antara perempuan dan mimpinya adalah dirinya sendiri, bukan definisi yang dibuat oleh orang lain dan dogma-dogma yang kadung terinternalisasi. Because roles may evolve, priorities may change, but ambitions shall remain.