MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Wanita Fesyen Pertunjukan

Fiola Rondonuwu
  Wednesday, October 18, 2017

 “Jangan menilai buku dari sampulnya.” Memang kita tidak boleh hanya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, namun saya sering merasa terganggu mendengar kalimat yang seringkali terucap itu. Ketika tidak memiliki waktu untuk mengenal seseorang tersebut lebih dalam, salahkah otak pemikiran yang dimiliki berjalan otomatis untuk berusaha menganalisis, menebak-nebak, dan membuat kesimpulan dalam waktu singkat tentangnya.

C:\Users\ASUS\Desktop\i wear my mood\judge people by cover.jpg
Sosial media merupakan salah satu media kita bertemu dengan orang-orang (dikenal mau pun asing) lewat dunia maya, yang memberi informasi identitas terbatas melalui foto dan keterangan tulisan yang dicantumkan oleh penggunanya.
Sumber: instagram @ahmadrubat

Penampilan luar merupakan informasi pertama yang ditangkap oleh mata sebelum kalimat terucap. Ketika saya tidak tahu seringkali saya merasa takut, sehingga saya butuh sebuah perisai untuk melindungi kecemasan atau ketakutan tersebut. Bagi saya, membuat kesimpulan terhadap seseorang dalam waktu singkat hanya berdasarkan atas penampilan luar yang terlihat merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang terjadi secara natural.

Sejak kecil saya lebih merasa nyaman mengenakan pakaian yang berwarna gelap, bergaya kasual, dan tidak sedikit yang berkomentar bahwa saya terlihat tomboi. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya mulai berubah, terutama ketika saya mulai bekerja di sebuah perusahaan konsultan di ibukota. Memang, sebelumnya saya sudah mulai mencoba berpenampilan feminin, namun ketika saya mulai bekerja kantoran, saya tergerak untuk lebih mengeksplorasi gaya berpakaian.

Tidak sedikit teman-teman, atau orang lain yang berkomentar mau pun bertanya dengan gaya berpenampilan yang saya pilih. Awal mulanya saya merasa kesal, sampai saya menyadari wajar saja mereka membuat kesimpulan sendiri, bahkan mereka baik ketika mereka bertanya bukan hanya berkomentar karena mereka belum tahu, dan saya juga tidak pernah atau sempat memberi tahu. 

C:\Users\ASUS\Desktop\i wear my mood\tulisan drupadi 2a.jpg
Gaya berpakaian saya bukan hanya untuk pergi ke pesta, atau melakukan pertunjukan, bahkan bisa saja saya kenakan ke mall (di Jakarta) bergantung pada suasana hati. Sumber: Foto oleh Reyhan Rahmawan, 2016

Kenapa saya tidak mencoba mengenakan gaun, rok, atau pun sepatu berhak tinggi? Mumpung saya wanita, dan itu merupakan keuntungan yang tidak bisa didapatkan oleh pria. Saya lebih terkompori lagi untuk berusaha untuk bergaya pakaian sangat feminin, ketika saya sering mendengar stereotip bahwa wanita yang berdandan itu bodoh, tidak pintar, terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan bagaimana ia terlihat. Saya tergerak untuk membuktikan setidaknya kepada orang-orang yang mengenal saya bahwa tidak sepenuhnya itu benar. Bukan berarti saya merasa pintar, tapi justru itu memotivasi saya untuk berusaha belajar menjadi lebih pintar, setidaknya bertindak pintar.

Ketika mulai terbiasa mengenakan gaun yang mengepas dengan tubuh saya lalu memakai sepatu berhak tinggi, saya merasakan banyak limitasi yang terjadi. Saya tidak bisa bergerak dengan bebas, duduk harus diatur, saya tidak bisa berlari di atas tanah, rumput, bebatuan, mau pun permukaan dengan kemiringan tinggi. Namun limitasi itu yang membuat saya merasa lebih terkendali. Meski pun mengenakan hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena saya menyukainya saya menjadi merasa sangat nyaman setiap kali memakainya. Kenyamanan tersebut membuat saya merasa lebih kuat dan lebih percaya diri. Tentu tidak mungkin saya mengenakan sepatu hak tinggi ketika saya berencana untuk pergi mendaki gunung. Segala sesuatu di dunia ini tentunya selalu memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku; tidak bisa saya bergaya pakaian seenaknya kapan pun dimana pun. Itulah mengapa saya merasa harus belajar untuk dapat pintar memilih gaya berpakaian sama seperti pintar dalam bersikap mau pun bertindak. 

Saya merasa bahwa fesyen merupakan sesuatu yang penting. Apa yang kita kenakan merupakan identitas diri kita, menjadi sebuah informasi dan pesan pertama yang kita kirimkan kepada dunia. Apa yang kita kenakan merupakan pertunjukan tentang diri kita; yang kita pertontonkan kepada orang-orang di sekitar dalam berkehidupan. Menurut saya, ketika keluar menghadapi dunia, seolah-olah diri telah menginjak panggung dan mementaskan sebuah pertunjukan di hadapan penonton yang merupakan orang-orang di sekitar yang melihat. Di dalam sebuah pertunjukan ada tokoh-tokoh yang berperan untuk menceritakan sebuah kisah. Tokoh-tokoh tersebut, meskipun berbeda karakternya serta perannya, mereka semua adalah diri kita ketika kisah pertunjukan tersebut adalah kita sendiri. 

C:\Users\ASUS\Desktop\FIOLA CHRISTINA - folder 2016 part 2\NOVEMBER\DOKUMENTASI\FOTO\kompas\4.JPG
Tokoh-tokoh, kostum, properti yang berperan dalam menceritakan kisah pertunjukan yang dipentaskan di atas panggung. 
Sumber: Dokumentasi Teater EPIK Vol. 5 – Taraksa, 2013

Seperti yang dikatakan oleh Kennya Rinonce pada perbincangan singkat kami di satu sore hari, “Acting for living, living for acting.” Kita tidak pernah terlepas dari sebuah pertunjukan, disitulah bagi saya seni dari sebuah kehidupan. Hari ini mungkin anda melihat saya terlihat seperti wanita yang biasa dijuluki feminin dan besok mungkin anda melihat saya terlihat seperti wanita yang biasa dijuluki tomboi, dan esoknya bisa berubah lagi. Anda mungkin bisa melihat saya berubah-ubah setiap harinya, namun itu semua merupakan diri saya, peran-peran saya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dalam berkehidupan, dan saya sudah mulai merasa nyaman dengannya. 

 ‘Sex and the City’ merupakan film favorit saya yang mengenalkan saya kepada fesyen dan menginspirasi saya terhadap pandangan saya akan fesyen. Carrie Bradshaw menurut saya merupakan seseorang yang percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak malu untuk mengkespresikan dirinya dan menunjukan sisi kerapuhannya.

Saya sangat menyukai pemikiran Sarah Jessica Parker (pemeran Carrie Bradshaw) setiap ia akan memilih pakaian yang ia kenakan dalam wawancara mengenai koleksi rancangan Zappos-nya oleh ‘Who What Wear’ yang dapat dibaca di tautan ini. Ia selalu memilih pakaian yang akan membuatnya merasa nyaman kemana pun ia akan berada. Ia memilih apa pun yang ia kenakan karena ia menyukainya, menyukai perasaan ketika mengenakannya, bukan karena orang menyuruhnya; tidak peduli apa yang dikatakan oleh ibunya, teman-temannya atau bahkan tren yang disebut oleh majalah. Ketika memilih gaya pakaian atas dasar pilihan orang lain, ia mulai kehilangan identitasnya. “I can’t really dress for other people because then I won’t feel like myself! You’re never going to please everyone,” ujar Sarah Jessica Parker. Saya cukup yakin, keyakinan dan kepercayaan diri yang ia miliki sekarang tidaklah didapatkan dengan mudah, dan dibutuhkan sebuah usaha.

C:\Users\ASUS\Desktop\i wear my mood\carrie-bradshaw222.jpg
Gaya berpakaian Carrie Bradshaw yang dapat dikenakannya untuk sehari-hari dalam film ‘Sex and The City’.
Sumber: HBO/courtesy Everett Collection, http://hollywoodlife.com/pics/carrie-bradshaw-style-sex-and-the-city-best-outfits-pics/ 

Saya mungkin di beberapa pandangan orang-orang terlihat seperti stereotip wanita yang sering dicemooh karena menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan yang lain hanya untuk memikirkan apa yang harus saya kenakan hari itu. Namun, selama saya masih bisa mengerjakan seluruh tanggung jawab saya, kenapa tidak? Jika memang saya harus bangun beberapa menit atau bahkan sejam lebih cepat hanya untuk bersiap-siap, selama saya tidak terlambat datang, kenapa tidak? Toh, Drupadi juga merupakan sesosok wanita yang bangun paling pagi dan tidur paling malam bukan karena ia wanita yang lemah, malas atau pun bodoh. Justru bagi saya ia merupakan sosok wanita yang sangat hebat, yang memiliki tanggung jawab sangat berat. Saya tidak dapat membayangkan menjadi seorang dirinya; wanita yang memiliki tanggung jawab bukan hanya kepada satu suami, namun lima suami. Saya juga takjub ketika mengetahui bahwa ia bukan hanya mempelajari ilmu kecantikan, keputrian mau pun tata busana, ia juga banyak mempelajari ilmu pemerintah, politik, sosial mau pun budaya. Di mata saya, usaha keras yang ia lakukan seumur hidupnya adalah salah satu bentuk usaha untuk membuat dirinya nyaman; menyelesaikan seluruh tanggung jawab yang ia miliki sebagai seorang istri, mau pun wanita yang bertanggung jawab.

Jika fesyen merupakan bentuk visualisasi dari pertunjukan, merupakan sampul dari sebuah buku yang sering diperdebatkan oleh orang-orang tentang interpretasinya, saya rasa dibutuhkan sebuah monolog mau pun dialog, dibutuhkan halaman-halaman berisikan tulisan-tulisan, untuk orang-orang yang tertarik mengetahui dan menggali lebih dalam naskah cerita dibaliknya. Saya sedang berusaha mencoba untuk menyediakan sebuah kanvas sehingga dialog yang belum terucap dari sebuah pertunjukan dapat disuarakan, halaman kosong dari sebuah buku  yang berharap untuk diceritakan dapat tertuliskan. Saya ingin mencoba menyediakan kanvas untuk menuliskan naskah yang berharap dipentaskan. 

Terlahirlah secara spontan beberapa hari yang lalu, sebuah blog ‘I Wear My Mood’ yang merupakan perwujudan dari kanvas yang berusaha saya sediakan, yang mungkin awalnya terlahir dari sebuah ego; memiliki alasan untuk dapat mengenakan semua pakaian, tas, sepatu yang saya miliki setiap harinya. Yang lalu berkembang menjadi sebuah keinginan untuk mengeksplorasi fesyen sebagai wujud ekspresi pikiran dan emosi manusia melalui gaya berpakaian yang dikenakan sehari-hari. Lalu tanpa disadari sebelumnya, menciptakan harapan untuk belajar dan berbagi melaluinya. Bagi saya fesyen merupakan bentuk terapi yang membantu saya menjalani hidup. Fesyen merupakan perisai dan pedang yang saya kenakan untuk bertahan setiap harinya di kondisi seperti apa pun. Baru beberapa hari mulai menulis ‘I Wear My Mood’ telah membantu saya untuk lebih bertahan dan bersemangat menjalani hari.

Namun, sebuah pertunjukan tidak dapat berlangsung sendiri. Dibutuhkan pemeran di atas mau pun di balik panggung dan penonton. Menyadari hal tersebut, meski pun baru beberapa lari lahir, saya mulai menceritakan blog ‘I Wear My Mood’ kepada teman-teman saya. Setelah bertukar pikiran dengan teman-teman, sangat banyak yang saya dapatkan sebagai inspirasi dan pembelajaran. Mungkin yang telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya ini, dapat menghampiri blog saya yang masih bayi berumur beberapa hari. Jika tertarik dan memiliki hal yang ingin disampaikan, atau bahkan mau membantu atau menemani saya mengurus bayi ini sampai dewasa dapat berkenalan dengan saya. Seperti drupadi.id, saya juga merasa saya tidak akan pernah bisa sendirian.

Sedikit catatan untuk tulisan saya ini, meski pun di dalam KBBI fesyen (Inggris: fashion) bukan merupakan kata yang baku, namun saya juga tidak terlalu sreg dengan penggunaan kata mode. Bagi saya di tulisan ini penggunaan kata fesyen lebih mengacu kepada gaya berpakaian (termasuk pakaian, potongan rambut, perhiasan, tas, dsb.), sedangkan mode lebih mengacu kepada gaya berpakaian yang popular. Bisa jadi juga dikarenakan suasana hati saya yang sedang ingin menggunakan kata fesyen, yang mungkin dapat berubah lagi esok atau entah kapan pun. Bisa jadi tulisan terbatas yang merupakan opini berdasarkan pengalaman dan ilmu yang baru saya miliki sampai saat ini, juga merupakan suasana hati saya saat ini, ketika sedang berkolaborasi dengan Drupadi. Namun, suasana hati yang dinamis merupakan bagian dari diri saya, dan ketika saya berusaha mengabaikannya, saya merasa seolah-olah seperti mengkhianati diri sendiri.