MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Dua Jam

Risa Sarasvati
  Tuesday, October 17, 2017

Halo selamat sore.


Masih ada 2 jam waktu untukku bercermin.

Memulas wajah yang licin, mengukir gincu dalam bingkai bibir yang asin.


Pssst. 

Bekas salah satu Pandawa itu.


Dua jam nanti bisa kubayangkan bagaimana peluh membanjiri tubuh

Suaranya yang kerap melenguh

Membekap mulut, memilin tubuh, menjambak rambut dengan angkuh.


Sayup pasti kan kudengar ibuku berteriak

Agar terpejam saja kedua mataku

Biar tuli saja telingaku

Karena ini adalah takdirku.


Nerakaku ini, mungkin surga untuk kalian.

Bergumul dalam tubuh-tubuh yang tak asing

Berebut mendekap hingga membikin pusing

Mata-mata itu memicing

Menganggap otakku mulai miring


Lagi-lagi katanya inilah takdir.


Satu hati yang kugenggam, namun empat lainnya mengecam.

Satu nama kupegang, yang lainnya tak patah arang.

Inikah yang dinamakan adil? Jika pikiran terasa begitu kerdil.

Lantas dimana kemanusiaan? Jika nasfu meraja bagaikan setan.


Melangkah ke kanan, jurang.

Melangkah ke kiri, berang.

Mundur, rentang.

Maju pun tak kulihat terang.


Bagai selembar kertas usang, aku hanya berharap seseorang akan mengerti bahwa kertasku ini begitu rapuh.

Tersenyum untuk sembunyikan luka, tanpa satupun tahu aku sedang jatuh.


Rona wajah itu menipu, tapi tidak dengan hati.

Dia kerap menjerit, meminta perlindungan dari seluruh organ yang menyelimutinya. 

Organ tubuhku yang lain pandai menutupinya, dengan alasan takdir mereka bungkam hati ini. 

Bibirku, haha... ratu dari segala kebohongan. 


Bohong bila dia berkata senang

Bohong bila dia mengucap syukur

Bohong bila dia mengecup rindu

Bohong bila dia mengecap manis.


Ah, sudahlah.

Dua jam setelah bersolek aku hanya ingin tidur.

Menunggu giliran terakhir nanti, saat hati benar-benar bertaut pada satu nama.

Satu-satunya pengharapan, mimpi, yang akhirnya selalu membuat aku terjaga.


Nama terakhir, tersemat dihati.

Meski bibir bicara kelimanya terselip disana-sini.

Meski nyatanya hanya satu, 

Meski tetap terucap untuk semua,

Meski kadang dia tak mengerti

Meski dia hanya menggerayangi tubuhku

Meski hanya pelampias nafsu

Meski...

Meski...

Meski...

Ah, sudahlah. 


Hanya mimpi yang membuatku merasa hidup.

Kadang mungkin lentera terasa redup.

Rasanya aku masih sanggup...

Benar, sanggup?


Dua sisi hitam dan putih saling bergelut.

Kadang sejalan seringnya saling memagut

Berebut bicara tentang kebaikan, berebut bicara tentang kebenaran, menurut versi yang berbeda.


Kemana harus berjalan?

Aku hanya wanita, yang butuh satu laki-laki.

Satu saja cukup.

Tak usah dua tiga empat apalagi lima.

Jika tahu kemana jalan itu. Bisa tunjukan padaku?


Sebentar, aku terlalu banyak bicara.

Nanti mereka murka.

Lihat, bedakku terlalu tebal.

Sisirku berhasil mengurai rambut menggimbal.

Nyaris botak rambutku

Nyaris tak dikenali wajahku.


Mereka tak suka ini

Mereka tak suka itu

Apa menurutmu ini menyenangkan?

Atau bagimu inilah sesuatu yang patut dirindukan?


Coba tolong buka peta, tunjuk dimana diriku sekarang?

Yang membuat banyak perempuan merasa berang.

Menaklukan laki-laki dengan sembarang.

Seolah tak puas dengan satu orang.


Ah... sore ini aku terlalu banyak bicara.


-

photo by @purpalart