MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Jari-jari Drupadi

Sundea Salamatahari
  Saturday, October 14, 2017

Drupadi mengamati kelima jari tangan kanannya. Semua ia namai sesuai dengan nama kelima pacarnya. 

“Bima, Yudhistira, Arjuna, Nakula, Sadewa,” gumam Drupadi sambil mengurutkan jari-jarinya dari jempol sampai kelingking. Senyum terbit di bibir Drupadi ketika mengingat mereka satu persatu. Sambil mulai mengecat kukunya dengan kuteks merah, Drupadi membayangkan wajah setiap mereka. 


Pertama-tama Drupadi menguteks kuku jempolnya. Bima.

Bima bukan yang paling ganteng, tapi tubuhnya paling besar dan berisi. Nah. Cinta Bima pada Drupadi sama besar dan berisinya dengan tubuhnya itu. 

Bima bukan kesayangan Drupadi, tapi Drupadi selamanya menjadi kesayangan Bima. Bima memanjakan Drupadi. Bima memuja Drupadi. Meskipun cukup mandiri, Drupadi senang bermanja-manja dengan sikap heroik Bima kepadanya. 

Like this!” Drupadi mengacungkan “Bima” sambil cekikikan setelah kukunya selesai dikuteks. 


Kedua Drupadi menguteks kuku telunjuknya. Yudhistira. Saat mengingat Yudhistira, ekspresi Dru berubah serius. 

Yudhis juga bukan yang paling ganteng, tapi dalam hampir segala hal, ia “nomor satu” seperti telunjuk. 

Yudhis anak sulung. Tanggung jawab yang besar menumbuhkan jiwa kepemimpinannya. Ia dewasa dan sikapnya selalu mengundang segan. Mungkin bisa dibilang dialah yang paling husbandable di antara pacar-pacar Drupadi yang lain. Namun apakah Drupadi siap menjadi istri yang mengikat diri sepenuhnya? Bukan hanya kepada Yudhis, tapi juga kepada norma-norma dan stereotipe? 

Drupadi tidak yakin.  


Ketiga Drupadi menguteks kuku jari tengahnya. Arjuna. Sambil mengoleskan kuteks, Drupadi menghela nafas.

Ini dia. Cuma Arjuna yang betul-betul bisa membuat jantung Drupadi berdebar-debar dan seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik. Arjuna ganteng dan charming setengah mati. Sejak pertama, Drupadi sudah merasa “kalah” oleh pesonanya. 

Arjuna dapat membuat Drupadi merasa bahagia, disayang, disanjung, tapi di waktu yang lain Arjuna bisa menghilang, naksir orang lain, dan membuat Drupadi uring-uringan karena merasa diabaikan. 

Namun bagi Dru Arjuna adalah sparing partner yang sepadan. Mereka seperti lawan tanding di sasana anggar; beradu tangkas, beradu strategi, sekaligus dibuat menyala oleh adrenalin yang mendorong mereka untuk “bertarung”. 

Di awal, dengan sportif Drupadi mengakui kekalahannya menangkis daya pikat Arjuna. Namun ia selalu siap menantang Arjuna pada pertandingan dan permainan-permainan berikutnya. 

Drupadi mengacungkan jari tengahnya ketika mengingat Arjuna. Sebagai ekspresi pujian yang tertinggi, sekaligus geregetan yang tak ada habis-habisnya. 


Keempat dan kelima, jari manis dan kelingking, Nakula dan Sadewa. Drupadi memutuskan untuk menguteks keduanya sekaligus.

Sambil senyum-senyum Drupadi mengingat-ingat berondong kembar yang menggemaskan itu. Nakula ganteng sekali, lebih ganteng dibanding Arjuna malah. Kulitnya bersih, wajahnya innocent seperti bintang-bintang Korea, agak flamboyan dan alay, sih, tapi nggak apa-apa. Namanya juga cowok zaman now. 

Sementara Sadewa? Drupadi menggoyang-goyangkan kelingkingnya. Jari paling ujung, paling kecil, tapi punya kekuatan mengikat sumpah. 

Sadewa tidak seganteng Nakula, namun matanya lebih cemerlang. Ia cerdas dan punya kearifan yang melampaui usianya. Drupadi menaruh hormat pada Sadewa dan tidak menganggapnya anak-anak setiap mereka berdiskusi tentang apapun. 

Kendati begitu, Sadewa tetap saja masih muda. Untuk urusan pengalaman ia masih perlu belajar banyak.


Kelima kuku jari kanan Drupadi sudah selesai dikuteks merah. Drupadi mengibas-ngibaskannya supaya cepat kering. 

Drupadi memegang kendali atas kelima jarinya, kelima pacarnya. Kelima jari Drupadi adalah milik Drupadi. Tubuh Drupadi adalah miliknya sendiri. Ia yang memutuskan kapan ingin menunjuk, kapan ingin mengacungkan jempol, kapan ingin memaki dengan jari tengah, atau mengikat diri dengan sumpah. Setelah kuteksnya kering, Drupadi memilih sebuah cincin dan meyematkan cincin tersebut di jari manisnya. Nakula. 

Drupadi melirik jam dinding dan ternyata sudah pukul enam. Sebentar lagi Yudhistira akan menjemputnya untuk berkencan.

Pukul setengah tujuh, bel rumah berbunyi. Drupadi bergegas membukakan pintu. Namun betapa terkejutnya ia ketika ternyata…

“Dursasana! Kok kamu?!”

Dursasana berusaha menjambak rambut Drupadi, tapi dengan cekatan Drupadi menepisnya.

“Ikut! Yudhis kalah taruhan sama Abang gue!” Dursasana masih berusaha menyeret Drupadi.

“Dia yang kalah taruhan, kenapa gue yang musti ikut?!” kembali Drupadi mengelak.

“Karena badan lo bayaran taruhannya, Lonte!” 

PLAK!!! Kelima jari Drupadi – Bima, Yudhistra, Arjuna, Nakula, dan Sadewa – mendarat keras di wajah Dursasana. Drupadi menjadi merah padam. Napasnya memburu. Matanya membelalak hampir keluar. 

“HEH! Gue bukan Lonte, ya! Asal lo tau! Badan gue punya gue! Enak aja dijadiin bahan taruhan sama orang lain!” 

BRAKKK Drupadi membanting pintu rumahnya kuat-kuat, menguncinya, dan menyelotnya dari dalam. Dursasana masih terus menggedor-gedor, tapi Drupadi tidak peduli.

Drupadi tak tahu apa yang persisnya ia rasakan saat itu. Ia marah, tapi juga sedih. Kecewa, tapi merasa menang karena baru saja membela tubuhnya sendiri. Ingin menangis, sekaligus ingin tertawa penuh kemenangan. 

Drupadi mengamati tangannya yang lecet dan perih setelah menampar pipi Dursasana yang sekeras tembok. Ia memegang kendali atas jari-jarinya, tapi tidak atas rasa sakit yang kadang-kadang datang sebagai konsekuensi. Hormatnya pada Yudhistira terluka, tapi harga dirinya akan segera menyembuhkan luka itu. 

Malam itu mendadak terasa dingin. Namun perempuan yang terlahir dari api mampu membangun bara yang menghangatkan dirinya sendiri.