MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Drupadi

Arie Dagienkz
  Friday, October 13, 2017

Drupada terlihat begitu marah saat menonton youtube di iPad Pro terbaru miliknya, melihat bekas sahabat seperguruannyanya dulu bergembira ria bersama murid-muridnya yang setia di bekas istananya. Sebagian daerah Pancala memang terpaksa harus diberikan kepada Durna yang dengan bantuan para pandawa berhasil mengalahkan Drupada. Well, pada dasarnya Durna bukan merampas, akan tetapi Drupada, dulu waktu masih bernama Arya Sucitra memang pernah berjanji kepada Durna akan memberikan separuh kerajaannya jika ia menjadi raja. Tapi semenjak menjadi raja pancala, Drupada seakan lupa akan janjinya kepada Durna. Durna pun ‘menagih’ janjinya.

Wajah Drupada memerah, kemudian dengan amarah yang teramat sangat dibantingnya gadget keluaran terbaru itu ke lantai marmer Italia istananya. IPad Pro tersebut pun hancur berkeping keping. Drupada mengambil iPhone X dari kantung celananya dan langsung menghubungi sebuah nomor. “I’m on my way!” begitu katanya singkat kepada Patih Drestaketu di sambungan telepon. Lalu Drupada bergegas menuju garasinya yang dipenuhi mobil dan motor sport mutakhir. Di sana Patih Drestaketu sudah menunggu Drupada sambil memegang kunci yang kemudian diserahkan kepada Drupada. Prabu Drupada langsung meraih kunci tersebut dan menghidupkan sebuah motor besar favoritnya dan tanpa memberi aba-aba kepada Drestaketu, Drupada memutar handle gas motor besarnya dalam-dalam. Drupada melesat keluar garasi istana di ikuti patihnya yang setia.

Prabu Drupada mengendarai motor tak tentu arah, Drestaketu tak berani bertanya kepada rajanya yang sedang bete. Sampai akhirnya mereka berdua tiba disebuah daerah bernama Jatirokeh. Raja Pancala dan patihnya menyusuri kota tersebut, mereka menemukan sebuah café di pinggiran Jatirokeh. Mereka berdua memarkir motor mereka di depan café. Drupada langsung bergegas masuk ke dalam café, sementara Patih Drestaketu mengambil Samsung Galaxy Note 8 terbaru miliknya lalu memfoto tampak depan café dan kemudian mempostingnya di Instagram.

Finally.. hestek ridingtogether hestek with the king hestek cutecafé hestek jatirokeh.. Post!” Begitu captionnya. “Ketu!” panggil Drupada dengan betenya ke sang patih.

“Ngapain sih lo? Pasti instagram deh! Gila ye.. ngga bisa banget liat tempat lucu dikit!” Cerocos Drupada kepada patihnya yang memang cukup aktif bersosial media.

“Hehehehe maaf prabu”, jawab patih Drestaketu sambil memasukkan smartphone canggihnya kedalam saku ves motor.

Kemudian Drestaketu menyusul Drupada ke dalam café

Prabu Drupada dan Drestaketu lalu duduk disebuah sudut café tersebut. Tak berapa lama waitress menghampiri mereka. Prabu Drupada memesan kopi dan roti bakar srikaya sementara Drestaketu memesan, “Saya mie instan dua ya. Satu goreng, satu rebus. Dua duanya pake keju sama kornet. Terus roti bakar coklat keju sama kopi.” “Kelaperan apa gimana sih lo?” Tanya Prabu Drupada sinis kepada Drestaketu. Sang patih hanya cengengesan saja. Waitress menulis semua pesanan lalu bergegas pergi meninggalkan pejabat pejabat Pancala. Tak berapa lama pesanan Drupada dan Drestaketu pun datang. Mereka berdua langsung menyantap pesanannya. 

“Prabu Drupada.. Patih Drestaketu”, tiba-tiba saja ada suara menyapa Drupada dan Drestaketu saat mereka nyeruput kopi dukunnya masing-masing.

“Betul.. loh? Profesor doktor insinyur Yodya msc mph sh s kes? Profesor doktor insinyur Upayodya msc mph s kes?” Sambut Prabu Drupada kepada orang yang menyapanya. Ternyata Drupada kenal kepada dua sosok kembar yang sangat terkenal akan temuan-temuan mereka di bidang rekayasa genetika.

“Apa kabar profesor Yodya? Profesor Upayodya?” Sapa Drupa dengan nada sedikit gembira dan penuh harap.

“Baik prabu, terima kasih. Kami dengar tentang kabar di Pancala. Kami turut berduka prabu. Kami doakan semoga prabu diberikan kejayaan in the future", jawab Upayodya.

“Terima kasih profesor”, sambut Drupada.

“Ada yang bisa kami bantu prabu? Just to lighten up your feeling?”, tanya profesor Yodya. Prabu Drupa menghela nafas, wajahnya terlihat menahan sedih, marah dan bingung. Matanya terlihat sedikit berkaca. “Tenang prabu, semoga kami berdua bisa membantu prabu meringankan kesedihan prabu. Sebut saja prabu.” Yodya berusaha menenangkan prabu Drupada. 

Dengan suara sedikit bergetar Drupada berucap, “Membagi Pancala menjadi dua dengan Durna memang tak akan pernah mudah. Mungkin aku tak akan melupakannya. Tapi ada yang paling sulit aku terima. Durna dikelilingi seratus dua orang murid kesayangannya dan satu anak laki-laki. Sementara..” Drupada menghela nafas. “ Aku tak akan pernah bisa punya keturunan.”

“Prabu Drupada”, sahut profesor Yodya sambil memegang pundak Drupada. “Mari ikut kami ke fasilitas laboratorium kami yang sederhana. Tempatnya tidak jauh dari sini. Kami ingin menunjukkan sesuatu kepada prabu.” Lanjut Yodya.

“Sekarang?” Tanya Drupa.

“Enggak. Minggu depan. Ya sekarang laaahhh!” Canda Upayodya dengan jokes Srimulat tahun 90annya yang sudah kurang lucu di jaman millenials ini. Prabu Drupada dan Patih Drestaketu langsung mengikuti kedua profesor itu.

Mereka berempat akhirnya sampai di sebuah fasilitas laboratorium rahasia milik profesor Yodya dan Upayodya. Kedua profesor itu langsung memandu petinggi-petinggi Pancala, sampai akhirnya mereka masuk sebuah ruang rahasia yang cara masuknyapun memerlukan kode-kode seperti face recognition, retina recognition, sidik jari, sidik jari kaki sampai DNA yang diambil dari bulu hidung kedua profesor itu.“Prabu Drupada dan Patih Drestaketu. Di depan Anda semua itu ada partikel terkecil di dunia. Lebih kecil dari atom bahkan dari inti atom. Akan tetapi daya hancurnya melebihi dari hari kiamat sekalipun.” Jelas profesor Yodya dengan tenang. Kedua pejabat tinggi Pancala itu pun terkagum-kagum. “Partikel ini juga bisa memulai sebuah kehidupan, oleh sebab itu partikel ini bisa membantu prabu Drupada. Karena ini adalah partikel Tuhan.” Tambah Upayodya.

“Tapi.. Gandawati tidak akan bisa punya anak profesor. Kami sudah ke spesialis manapun. Singapura, Amerika, Russia, Eropa bahkan kami sudah coba keberbagai pengobatan alternatif tapi hasilnya juga nihil!” jelas Drupada. “Kami tidak akan melibatkan ibu permaisuri prabu. Kami hanya perlu DNA dari prabu Drupada saja. DNA prabu nantinya akan kami racik sedemikian rupa dengan rumus super human genetic engineering yang baru saja kami temukan yang bernama putrakama yadnya, lalu kami akan tembakan ke partikel tuhan.” Jelas profesor Yodya. Prabu Drupada terlihat begitu antusias akan penjelasan dari dua profesor jenius itu. Mereka semua langsung mempersiapkan segalanya. Drupada diambil DNAnya. Lalu DNAnya dimasukan ke sebuah tabung yang kemudian dimasukan ke sebuah alat yang bentuknya seperti meriam namun sangat canggih. Profesor Yodya menginstruksikan ke semua yang ada diruangan untuk masuk ke ruang pengamatan terisolasi atau ruang kontrol. Dan mereka semua harus memakai baju khusus anti radiasi nuklir. Karena eksperimen ini memang membutuhkan bantuan nuklir. 

Setelah semua persiapan sudah lengkap dan sempurna, mereka semua masuk kedalam ruang kontrol. “Prabu Drupada”, panggil profesor Yodya kepada raja pancala yang terlihat antusias tapi juga terlihat gugup. Prabu Drupada mengalihkan pandangannya dari layar monitor besar ke profesor Yodya. “Saya akan segera melakukan proses putrakama yadnya. Akan tetapi kami tidak punya kuasa akan jenis kelamin anak yang akan hadir nanti”, jelas Yodya. “No! Aku mau anak laki-laki! Karena dia akan membunuh Durna!!” Jawab Drupada dengan sedikit emosi. “Kami tidak bisa berjanji tapi kami akan berusaha sekuat tenaga kami prabu.” Jawab profesor Upayodya. Prabu Drupada tidak menjawab. Ia kembali menatap monitor. Proses putrakama yadnya pun dimulai.

Cahaya sangat menyilaukan timbul setelah sebuah sinar laser yang berasal dari alat yang mirip meriam yang berisi DNA prabu Drupada ditembakkan ke partikel Tuhan secara simultan. Sinar yang sangat menyilaukan tersebut semakin lama semakin terang dan menimbulkan kepulan asap yang banyak sekali. Dari asap itu terlihat kilatan-kilatan cahaya seperti halilintar. Semua yang berada diruang kontrol terkesima melihat seluruh proses putrakama yadnya ini. Drestaketu yang dari tadi hanya diam saja terlihat berdecak kagum. 

Samar-samar dari kilatan cahaya itu membentuk sosok manusia. Bukan bayi, tapi sosok manusia dewasa. Perlahan-lahan asap yang memenuhi ruang eksperimen itu hilang tesedot exhaus fan dan semakin lama semakin jelas sosok itu terlihat. Seorang anak laki-laki berusia awal 20an atau akhir belasan. Anehnya anak laki-laki tersebut sudah berbaju perang berteknologi canggih. Semua orang terperangah dalam hitungan detik. 

“Anak ku!” Teriak Drupada memecah keheningan. Pintu ruang eksperimen terbuka, sosok anak laki-laki itu keluar. Dari ruang eksperimen. Profesor Yodya, Profesor Upayodya, Drestaketu dan Drupada terpesona melihat sosok anak laki-laki yang keluar dari ruang eksperimen. Ia terlihat begitu gagah dengan baju tempur super canggih yang sudah dikenakannya. “Bapak”, sebuah kata terucap dari bocah itu sambil menatap Drupada. Tiba-tiba saja mata Drupada berkaca-kaca. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke patihnya yang setia. “Ketu. Selama ini kamu adalah orang yang paling setia mendampingi aku di medan perang manapun.” Drupada berkata kepada patihnya, Drestaketu. “Aku beri nama anak ini Drestajumena sebagai penghormatan ku kepada mu.” Lanjut Drupada yang terlihat begitu bahagia. Raja Pancala itu langsung memeluk Drestajumena. 

Disaat yang penuh haru dan bahagia itu tiba-tiba partikel tuhan mengeluarkan kobaran api yang begitu dahsyat. Jika saja ruang eksperimen itu tidak dilengkapi bahan baja super tebal dan segala teknologi terkini mungkin saja api tersebut akan melelehkan segalanya didalam. Kobaran api itu diikuti dengan goncangan keras seperti gempa yang membuat kelima orang di dalam ruang kontrol harus menjaga keseimbangannya. “Prabu..” panggil Drestaketu sambil menatap monitor. Lima pasang mata terlihat bergitu fokus menatap monitor. Dari inti kobaran api terlihat seperti membentuk sosok manusia. Profesor Yodya dan Upayodya terkejut bukan kepalang. Mereka berdua panik dan berusaha mengatasi kejadian itu. Sementara itu sosok manusia dari kobaran api itu semakin jelas. Perlahan kobaran api mengecil. Di tengah-tengah ruangan eksperimen terlihat sosok perempuan berkulit gelap namun cantik luar biasa. Selain Drestajumena, yang lain terlihat kaget, terutama dua profesor ahli genetika itu. Mereka berdua tidak mengira jika proses rekayasa genetika putrakama yadnya menghasilkan dua anak manusia. 

Lagi-lagi pintu ruang eksperimen terbuka, kemudian sosok perempuan itu masuk kedalam ruang kontrol. Semua tertegun melihat anak perempuan itu berjalan memasuki ruang kontrol. Sosok perempuan itu langsung menuju Drupada dan sungkem kepada raja Pancala. Drupada terkejut kerena ia tidak menginginkan anak perempuan. Drupada menatap wajah anak perempuan yang kira-kira usianya menjelang 20-an. Dalam hati ia kesal dan berkata, “Aku tak akan sudi menerima anak perempuan ini menjadi anakku. Kamu akan hidup dalam kesusahan selama hidupmu bocah ingusan!” Anak itu menengadahkan wajahnya dan menatap Drupada begitu dalam. “Bapak.. saya akan selalu berbakti kepada mu.. berilah aku nama bapak ku”, ucapan anak itu memecah keheningan. Drestaketu begitu iba melihat anak perempuan yang sedang sungkem kepada rajanya tapi junjunannya seakan tak mau menerimanya. 

“Krishna, itu namamu.” Drupada menjawab. Krishna dalam bahasa sansekerta berarti gelap. Hanya nama itu yang terlintas di kepala Drupada setelah mengamati anak perempuan ini.  “Terima kasih bapak.” Jawab anak perempuan itu. Setelah berdiskusi dengan profesor Yodya dan Upayodya Drupada pun pamit kepada mereka kedua profesor jenius itu. Mereka berempat pun kembali ke istana Cempala. Drestajumena membonceng ayahnya sementara Krishna membonceng patih Drestaketu.

Krishna ternyata tumbuh menjadi perempuan yang cerdas dan cantik. Lambat laun Drupada bisa menerima kehadiran Krishna. Drupada pun menerima ketika Krishna lebih dikenal dengan nama Drupadi atau anak Drupada, di lingkungan sekelilingnya. Drupadi memang sangat pandai bergaul. Selain cantik, ia juga cukup humoris dan pandai. Tidak heran follower sosial medianya mencapai jutaan dan tersebar dari seluruh pencuru negri. Drupada menyekolahkan Drupadi di home schooling karena Drupadi tidak mengikuti jenjang sekolah resmi. Hal ini dikarenakan Drupadi terlahir sebagai perempuan dewasa. Guru-guru terbaik di dunia dipanggil ke istana cempala, sebut saja Stephen Hawking yang mengajarkan Drupadi fisika, Pep Guardiola mengajarkan Drupadi olah raga, Iko Uwais mengarjakan silat dan ilmu kanuragan lainnya sampai Barrack Obama yang mengajarkan Drupadi ilmu sosial dan politik. Dan masih banyak dosen-dosen tamu lain yang hadir ke istana cempala mengajarkan Drupadi berbagai macam ilmu.

Dalam waktu singkat Drupadi menjadi perempuan yang sangat cerdas namun tetap down to earth. Ia hangout dengan berbagai macam kalangan, mulai dari rakyat biasa, ilmuwan, politisi, seniman, artis hingga budayawan seperti Sujiwo Tejo. 

Beberapa tahun kemudian di sebuah malam, Drupada me-WA Drupadi. “Dru tolong kamu menghadap Bapak di ruang kerja ku sekarang. Ada yang Bapak mau omongin”, tulis Drupada lalu mengklik tombol send. Tak berapa lama ada balasan dari Drupadi. “Okey dad!” Begitu katanya. Drupadi langsung beranjak dari kasur di kamarnya dan jalan menuju ruang kerja bapaknya. 

Tok tok tok. Drupadi mengetuk pintu ruang kerja bapaknya. “Masuk!” Suara Drupada dari dalam ruang kerjanya. Drupadi langsung masuk dan menutup pintu lalu duduk dihadapan bapaknya yang terlihat sedang berpikir keras. 

“Dru, How old are you?” Tanya Drupada kepada putrinya yang cantik jelita.

Ah come on dad. Why you ask?” Tanya balik Drupadi sambil tersipu.

“Dru. Bapakmu ini umurnya sudah lebih dari setengah abad. Kamu pun sudah dewasa. Sudah cukup umur untuk berkeluarga. Aku ngga mau nanti aku mati tapi belum pernah liat cucu Dru”, jawab Drupada dengan wajah yang sangat serius. Drupadi terdiam. Ia berpikir keras, hati dan pikirannya berdiskusi. Apakah memang sudah saatnya ia berkeluarga. Laki-laki macam mana yang sanggup menjadi suaminya. “Dru”, panggil Drupada menghentikan lamunan Drupadi.

“Bap. Sesuai janjiku waktu dulu pertama kali hadir dihadapan bapak, aku akan melaksanakannya, Dad. Aku akan selalu berbaktu kepadamu, Dad. Tapi dengan syarat”, tegas Drupadi.

“Apakah itu?” Tanya Drupada.

“Laki-laki yang boleh melamar aku harus lah jujur, kuat, seorang ksatria, cinta kepada alam dan juga ahli teknis apapun termasuk otomotif!” Jelas Drupadi.

“Deal!” Saut Drupada. “Aku akan buat sayembara untukmu. Kamu inget ga Gendewa aku?” Tanya Drupada kepada Drupadi.

“Yang besar banget pemberian dewa itu? Yang beratnya minta ampun yang sampe sekarang ga ada yang bisa ngangkat? Yang lebih gede dari busur panah yang dipake di Game of Thrones yang buat bunuh naganya Khaleesi? Yang..”.

“Stop!” Drupada menghentikan ocehan putrinya itu. “Iya yang ituuuu!!” Lanjut Drupada.

“Ya ingetlah, Bap”, jawab Drupadi.

“Jika kamu setuju aku akan buat sayembara khusus buat para ksatria dari kerajaan-kerajaan diseluruh dunia. Barang siapa ada yang bisa mengangkat gendewa dan melepaskan anak panahnya ke sebuah target yang sudah kita tentukan dia berhak melamar kamu. Gimana?” Tanya Drupada.

“Ga boleh anggota K-Pop ya dad? Kayak Suju gitu? BTS? EXO?” Tanya balik Drupadi.

“Loh? Katanya harus ksatria? Gimana sih kamu? Lagi juga k-pop star itu kan mukanya pada kayak cewek semua gitu, yang ada nanti dia adu cantik cantikan lagi sama kamu?” Jawab Drupada keberatan.

“Okey deh dad”, Drupadi menjawab keberatan ayahnya.

“Terima kasih darling putri ku yang paling ku sayang. Ga ada lagi yang bisa ku ucapkan..”

Come on dad.. I promised you.. I won’t let you down dad”, potong Drupadi dan ia langsung memeluk ayahnya. Mereka berdua langsung merancang poster, cara pendaftaran dan segala sesuatunya untuk sayembara itu. Setelah selesai Drupadi pamit kepada ayahnya lalu kembali ke kamar tidurnya. 

Sesampai dikamar Drupadi termenung. Ia memikirkan apa yang telah ia putuskan. Ia merasa ayahnya sedikit memperdayainya demi keuntungannya. D isisi lain Drupadi masih ingat akan janjinya sewaktu tercipta dan menghadap ayahnya untuk pertama kalinya. Drupadi pun bimbang. Ia menangis malam itu.