MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Wanita dalam Mahabrata

Dharwis Widya
  Friday, October 13, 2017

Pada awalnya, Drupadi diberi nama Kresna, berdasarkan warna kulitnya yang kehitam-hitaman karena dalam bahasa Sanskerta, kata Krishna secara harfiah berarti gelap atau hitam. Namun, lama kelamaan lebih dikenal sebagai Drupadi (ejaan Sanskerta: Draupadī), yang secara harfiah berarti puteri Drupada. Selain nama Drupadi, nama Pañcali juga diberikan kepadanya, yang secara harfiah berarti puteri Kerajaan Panchala. Selain itu, dikarenakan Drupadi merupakan saudari dari Drestadyumna, maka Drupadi disebut juga dengan nama Yadnyaseni (Yajñasenī). Drupadi merupakan anak yang dilahirkan dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual memohon anak dalam Kitab Mahabharata. Diceritakan pula dalam Kitab Mahabharata, setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, Drupada pergi ke dalam hutan untuk merencanakan balas dendam. Lalu Drupada memutuskan untuk mempunyai putra yang akan membunuh Drona, dan seorang putri yang akan menikah dengan Arjuna. Dibantu oleh Resi Jayadan Upajaya, Drupada melaksanakan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Drupadi lahir dari api suci tersebut. (1)

Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Drupadi bersuamikan lima orang, yaitu Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana. Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para peserta dan yang berhasil melakukannya akan menjadi suami Drupadi. Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal. Karna berhasil melakukannya, namun Drupadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Drupadi berhak menjadi miliknya. Sesampainya di rumah didapatinya, ibu mereka, yaitu Kunti sedang berdoa sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil. Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa hasil saja, namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak mau berdusta maka Drupadi pun menjadi istri dari Pandawa. (2)

Dari hasil hubungannya dengan kelima Pandawa ia memiliki lima putera, yakni:

  1. Pratiwinda yang merupakan hubungannya dengan Yudhistira;
  2. Sutasoma yang merupakan hubungannya dengan Bima;
  3. Srutakirti yang merupakan hubungannya dengan Arjuna;
  4. Satanika yang merupakan hubungannya dengan Nakula;
  5. Srutakama yang merupakan hubungannya dengan Sadewa.

Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara (3).

Dalam kitab Mahaprasthanikaparwa  diceritakan, setelah Dinasti Yadu musnah, para Pandawa beserta Drupadi memutuskan untuk melakukan perjalanan suci mengelilingi Bharatawarsha. Sebagai tujuan akhir perjalanan, mereka menuju pegunungan Himalaya setelah melewati gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha. Dalam perjalanan menuju ke sana, Drupadi meninggal dunia.

Drupadi merupakan simbol wanita yang setia serta tahan banting terhadap semua jenis penderitaan, walaupun sebenarnya Drupadi merupakan puteri Raja. Sesudah menikah, Drupadi juga tidak pernah mengeluh. Drupadi sempat melakukan hidup sebagai pengelana dengan keluar masuk rimba. Mereka hanya hidup dari pemberian orang, lantaran pada saat itu beberapa Pandawa tengah melakukan hidup  brahmana. Drupadi baru bisa hidup layaknya seorang permaisuri, pada saat Pandawa usai membangun Kerajaan Amarta. Tetapi kewajaran itu tak berjalan lama, lantaran Pandawa harus kalah dalam permainan judi dadu, yang disebabkan siasat licik dari Patih Sangkuni. Secara fisik Drupadi digambarkan berwajah sangat cantik, luhur budinya, bijaksana, sabar, teliti dan seti dan Drupadi selalu berbakti terhadap suaminya. Kekurangannya adalah perkataannnya yang sering menyinggung perasaan orang lain (5). Itulah Drupadi, tokoh penting dalam kitab Mahabharata. Drupadi merupakan tokoh wanita yang kuat yang dapat dicontoh oleh wanita sekarang meskipun tidak semua sifatnya bisa dicontoh.  Drupadi merupakan sosok istri yang mampu setia menemani suaminya sampai akhir hayatnya meskipun banyak pengorbanan yang dihadapi apalagi kehilangan seluruh putera-puteranya pada saat perang Bharatayudha. Tokoh Drupadi merupakan tokoh kuat yang mempengaruhi dinamikan dalam Kitab Mahabharata dan sangat perlu dipelajari sebagai bentuk kebudayaan di masa sekarang.

-

(1) Kaelola, Akbar. 2010. Mengenal Tokoh Wayang Mahabharata. Jakarta: Cakrawala, hal.147.

(2) Ibid, 2010, hal.148.

(3) Ibid, 2010, hal.154.

(4) Ibid, 2010, hal.153.

(5) Anonim.“Wayang: Karakteristik Dewi Drupadi” (Online). (http://www.nuradiwibowo02.blogspot. com, diakses tanggal 7 Oktober 2017).