MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Pagi Cinta yang Pergi

Naomi Arsyad
  Friday, October 13, 2017

Setiap matahari pamit untuk berkelana ke belahan bumi lain, aku mulai mencintaimu. Aku bersyukur cinta itu datang pada malam, sebab begitu mentari terbit, cintamu padaku pun padam.

Siangmu kamu berikan untuk wanita ayu, yang untuknya ijab dan kabulmu terucap, yang padanya mas kawin kamu beri. Awalnya, seorang-dua bocah darinya kamu harap. Nyatanya, rahim istrimu setandus kemarau, meskipun ia elok dan lembut budi.

Maka, nyaris setiap malam di pintuku kamu berdiri, seperti kucing liar dilempari sisaan jambal roti. Tersenyum lebar dan mata bulat berbinar, lantas aku ditarik ke dalam satu dekapan hangat dengan lengan-lenganmu yang kuat. Kedua kelopak mata serta pipi, kening juga hidung tak pernah absen dari kecupmu. Kecup yang akhirnya mendarat di bibirku sebelum situasi jadi begitu panas sampai-sampai neraka rendah diri. Luapan gairah jadi-jadian itu kemudian didinginkan kehadiran fajar yang tidak sempat kau saksikan. Saat subuh datang, kamu telah puas hingga tidak peduli lagi jika kantuk dan lelah mengalahkanmu. Aku terjaga untuk merasakan cintaku perlahan pudar, menyapa fajar, dan menelan pil kondar.

Kamu bodoh, namun jatuh cinta memang seringkali membikin perempuan jadi bodoh pula. Jika memang sebesar itu inginmu untuk berbuah hati, kamu tidak akan membiarkan ia lahir diluar kawin. Kamu juga tidak akan memilihku, karena aku tidak mau punya anak. Sekarang, paling tidak. Tidak tahukah betapa repotnya menampung jabang bayi? Tidak tahukah betapa sakitnya, apalagi dengan tulang punggung skoliosis yang melengkung ini? Ya, biarlah sel-sel telur itu meluruh tanpa guna dan  bekas darahnya kulenyapkan seperti pembunuh berantai yang lihai membersihkan jejaknya.

Kamu bodoh, namun jatuh cinta memang tak pakai isi kepala. Jadilah lentiknya bulu matamu dan senyummu yang rasa gula tebu merubuhkan pertahananku. Selain dengan senyum, kamu bumbui pula bibir penuh itu dengan puji-pujian untukku. Rambutku yang indah berjuntai-juntai, juga wajahku yang cantik alami.

“Perempuan lain sibuk poles kelopak mata dan gambar alis, kamu cantik apa adanya.”

Kamu bodoh. Kamu tidak tahu sekarang ini no makeup-makeup begitu populer di kalangan wanita. Foundation, bedak, bronzer, blush-on, dan segala tetek bengek itu tak akan bisa kubeli jika hanya dengan uang yang kamu berikan padaku. Untung sekali tanpa kamu pun, semua itu dapat kubeli. Cantik betulan hanya akan ketahuan saat kamu menguliti perempuan satu-satu. Istrimu itu cantik betulan, kamu sudah kuliti dan sudah tentu kamu tahu. Aku juga sungguh-sungguh cantik, tapi kamu tidak peduli pada cantik yang tidak bisa dipandang.

Kabut telah mengembun dan cahaya pagi menerobos tanpa sopan santun melalui celah-celah tirai. Kamu menggeliat, binar mata bulatmu masih sayup-sayup, tapi senyum gula tebu itu meletup melihatku hanya terbalut selimut. Sisa-sisa cinta semalam mencoba mendobrak hatiku lagi, tapi tidak bisa. Pagi sudah datang.

“Pagi, Sayang.”

“Pagi. Kalau malam aku sayang, tapi sekarang ‘selamat pagi’ tanpa embel-embel sudah cukup.”

“Kamu galak sekali, Srikandiku.”

Aku tergelak-gelak hingga kepalaku nyaris lepas. Jenis tawa yang membuatmu geleng-geleng kepala dan bilang, “Urakan kamu! Untung sayang.”. Kalimat yang membuatku terbahak lebih liar lagi, sebab kamu memang tidak seharusnya sayang kalau menganggap tawaku tidak pantas.  

Srikandimu, hei Arjuna? Tentu, kamu sungguh Arjuna. Heroik, perkasa, tampan, koleksi wanita disana sini. Aku masih terkikik geli melihat ekspresi memuja di sepasang mata teduhmu, seakan-akan kamu baru saja melontarkan gombalan paling jenius sedunia. 

“Srikandi itu waria, kamu tahu?” 

Kamu terhenyak sekejap sebelum terbata-bata membenarkan gombalan gagal itu. Aku merasa tersanjung disamakan dengan tokoh sehebat Srikandi, kalau saja itu bukan keluar dari mulutmu. 

“Benarkah, Sayang? Baiklah, tentu jangan Srikandi. Kamu kan perempuan yang sempurna dan utuh, calon ibu anak-anakku. Hmmm, apa ya...”

Nah, benar kan? Wanitamu cukup sedangkal itu. Jangan, sayang. Jangan repot-repot menyamakan aku dengan perempuan-perempuan menakjubkan yang kehebatannya tidak kamu ketahui walau hanya separuh.

“Rama dan Sinta. Ya, kita Rama dan Sinta.”

Aku harus menahan tawa sebelum menjelaskan padamu bahwa Rama punya cinta yang terlalu besar atau harga diri yang terlalu tinggi untuk selingkuh. Juga, jika lelaki yang kuberikan setia dan kujagai kesucian untuknya tidak mau percaya padaku, maka sejak awal tidak pantas ia mendapatkannya.

Matahari terus naik dan cintaku makin lama makin luntur. Aku bersyukur kamu akhirnya menyerah dan bersiap. Kalau tidak, siapa tahu cinta itu tidak lagi datang bahkan saat matahari tergelincir ke barat. Usai mandi, berpakaian, dan menyeruput sedikit kopi, kamu mengecup keningku lantas pergi bekerja. Bagian paling menggelikan dari perjumpaan kita adalah perpisahannya yang macam stereotip keluarga bahagia. Padahal kepalsuan kebahagiaan keluargamu adalah alasan kamu disini, dan aku tidak diam menanti saat kamu pergi.

Saat kamu berkemeja dasi, aku tidak menanak nasi. Klien-klien firma hukum ternama itu, jika bukan aku maka siapa yang mengurusi. Pengetahuanku tentang hukum dan undang-undang, kupakai maksimal demi mengisi pundi-pundi. Aku hanya bodoh dalam urusan cinta, tidak lebih.

Rekan-rekan kerjaku lebih beruntung, saat jatuh cinta mereka tidak ikut kelihatan konyol. Mereka dengan baik-baik dipinang alih-alih didatangi saat senggang, sebagian masih bujang dan senang bertualang. Kisah kasih dan curahan hati bertumpahan di jam istirahat makan siang. Mereka yang lebih banyak bercerita, sementara aku—si pendengar yang baik, mengangguk-angguk dan menyuarakan pendapat sesekali.

Perempuan-perempuan sekantor ini sekolah tinggi, lulus pula ujian Peradi, tapi siapa bisa menakar urusan hati. Perasaan seringkali membuat hidup yang tampak datar bagaikan ombak banyu, tak peduli betapa tingginya gelar, otak kerap berubah kelu. Jatuh hati memaksa kita menyusun strategi aneh-aneh. Tarik ulur lah, jual mahal lah, tunggu lima menit sebelum membalas chat lah. Menghargai diri sedemikian rupa untuk dimenangkan lelaki, lantas saat Sang Lelaki dianggap pantas menang, diberikannya seluruh jiwa raga.

Ditengah-tengah cerita cinta orang lain yang bewarna-warni, aku selalu teringat kamu. Sang Lelaki yang (mengira telah, padahal tidak pernah) memenangkan aku. Kamu, lelaki yang Eros pilihkan untukku. Cinta yang aku punya tanpa strategi, tidak menuntut memiliki. Betapa pun rusaknya hubungan kita, sukmaku tetap sehat karena perasaanku lenyap seiring terbangunnya matahari. Tubuhku, betapa pun seringnya bersatu dengan tubuhmu, sepenuhnya dalam kuasaku. Aku yang menentukan kapan ia menyambut tubuhmu. Aku yang memutuskan kapan selaput dara tidak lagi berguna dan siapa yang kuizinkan untuk merobeknya. Hayat dan badanku hanya mematuhi aku dan pilihan-pilihanku.

Hanya satu hal yang membuatku merasa sakit, yaitu istrimu. Bukan karena aku adalah yang kedua alih-alih satu-satunya. Kubayangkan cintanya padamu adalah jenis cinta yang awalnya penuh strategi, kemudian seutuhnya berserah diri. Kukira rasa seperti itu lebih penting dari sekedar kebutuhan berkembang biak.

Kamu bukan laki-laki yang pantas untuk dikasihi olehku apalagi oleh istrimu. Untungnya aku tahu jatuh cinta bukan sekedar kepantasan, ia semata-mata terjadi. Untungnya lagi, aku tahu manusia tidak boleh memiliki manusia lain selain dirinya sendiri.

Ditengah-tengah candaan jam makan siang, ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat darimu, paling-paling berisi deretan kata mutiara memuja-muji tanpa isi. Kubuka. Isinya cukup untuk membuatku mengeluarkan tawa gelak-gelak yang tidak anggun itu.

Sayang, aku baru dari dokter. Ternyata aku yang mandul. Aku harus bagaimana?

Yah, mungkin kamu memang Arjuna. Istrimu itu Drupadi. Dia sangat mencintaimu, tapi bolehkah bersuami empat lelaki lain? Siapa tahu dia juga betulan ingin punya anak. Mana tahu, dia juga menganggap kamu  dapat berfungsi lalu sedikit muak. Maksudku, kalau kamu bisa membagi hati, dia juga bisa jika mau. Perempuan dan laki-laki, sama-sama manusia kan?