MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Lelah jadi Inggit

Saskia Salmana
  Friday, October 13, 2017

Dulu, aku selalu menganggap aku adalah Inggit bagimu. Perempuan yang mencintai sosok yang mengagumkan,yang sampai kini pun masih mengagumkan. Mencintai sosok yang berbicara dan mengagaskan ide-ide untuk mengubah dunia dengan lantangnya, dengan bersemangatnya. Aku selalu merasa menjadi sosok Inggit yang memandang Kus* dengan penuh keyakinan, bahwa kamu pasti bisa dan akan mengubah dunia. Karena memang ya, kamu sudah mengubah duniaku bahkan hingga saat ini, saat aku sudah tidak lagi menjadi Inggit di hatimu.

Aku selalu berharap aku dapat menjadi Inggit bagimu, sosok perempuan penting dalam perjuangan. Yang mengasihimu dengan kelembutan, menghiburmu dengan tawa dan mendukungmu dengan kekuatan. Aku selalu berharap dapat menemanimu dalam meraih mimpi walaupun harus dilalui dalam keterasingan.

Aku selalu berharap menjadi Inggit bagimu, karena siapa yang dapat menggantikan sosok Inggit?

Kus bisa saja bilang ingin berbaring selamanya di satu liang lahat bersama Ratna Sari Dewi. Nyatanya? Yurike masih dapat merebut hatinya. Apakah Kus masih berusaha mencari serpihan-serpihan Inggit di dalam setiap wanita yang dicumbui nya? Apakah Kus terus berkelana dari pelukkan satu wanita ke pelukkan wanita lainnya karena belum menemukan sosok selengkap Inggit? Apakah Kamu juga begitu?

Kukubur dalam-dalam pertanyaan itu, karena kulihat kamu persis seperti Kus. Berlari kencang setelah aku meninggalkanmu, meraih mimpi dan juga mendapatkan apa yang kamu inginkan, belaian sosok wanita yang menerima dirimu apa-adanya, persis seperti sosok Hartini. 

Aku meninggalkanmu bukan karena sesosok wanita muda yang mengusik kalbumu, seperti Fatmawati sang gadis Bengkulu yang memikat hati Kus. Aku mungkin marah saat aku mengetahui kamu menemui wanita muda itu. Aku ingin menamparmu, aku ingin membanting barang yang berada di dekatku dan bahkan aku ingin memakimu sekasar-kasarnya, beraninya kamu pergi menemui dia!

Nyatanya bukan itu yang paling membuatku yakin untuk melepaskan dirimu. Yang membuatku yakin adalah kesadaranku bahwa aku tidak dapat memberi apa yang kamu harapkan dan kamu idamkan,sebuah masa depan. Kondisiku, tidak memungkinkan kamu dan aku untuk berjalan bersama di jalan bertapak bunga yang akan kamu dapatkan setelah perjuangan. 

Seperti Inggit yang mengatakan bahwa ia meninggalkan Kus karena pantang dan tidak rela dimadu, tapi aku yakin yang sebetulnya menjadi penggeraknya untuk pergi meninggalkan Kus adalah kesadaran, bahwa Inggit tidak dapat memberikan apa yang Kus inginkan dan Kus harapkan, keturunan.

Aku dan Inggit berbagi takdir yang sama dalam hal ini.Mencintai sosok matahari yang dibutuhkan dunia, haruslah kita berkorban agar ia dapat terus menjadi sinar yang terang benderang walaupun harus dibayarkan dengan sakitnya membagi sinar itu yang dulu dapat dimiliki sendiri dan seutuhnya.

Tapi sejujurnya aku lelah menjadi seorang Inggit. Aku lelah melihatmu berlari kencang dengan senyum memikatmu, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan dielu-elu kan. Aku lelah melihatmu berada dalam pelukan sosok lain yang aku tahu bisa memberimu apa yang tidak bisa aku berikan. Aku lelah melihatmu bahagia dari jauh. Aku lelah melihatmu bahagia yang bukan karena aku.

Aku putuskan untuk menanggalkan peranku sebagai Inggit. Aku tidak mau lagi menjadi Inggit. Karena sakit terdalam seseorang perempuan adalah meratapi kepergian sang pelita kehidupan, menerimanya dalam kesendirian sembari meyakinkan diri bahwa ini adalah jalan yang terbaik, dan aku tidak mau menjadi seperti itu.

Aku masih terlampau muda untuk melalui kepahitan ini sendiri.