MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Drupadi di Negeri Jancuk

Tommy F. Awuy
  Friday, October 13, 2017

Drupadi berparas aduhai dan bertubuh dengan lekuk-lekuk yang disenangi betul para desainer dan semua tukang jahit.  Semesta sudah memilihnya sebagai perempuan yang layak memiliki predikat sangat membanggakan dalam segala hal. Drupadi senang memandang angkasa namun akan cukup lama menundukkan kepala serius mengamati rerumputan, tanah, selokan air, dan sejenisnya. Jangan tanya, ia pun senang berbincang dengan orang-orang yang memiliki cukup pengetahuan. 

Tentu saja Drupadi menyadari akan kelebihannya itu dan berniat untuk merawatnya demi kegembiraan semesta. Tak heran nyaris setiap hari dia butuh waktu yang cukup untuk mengamati paras dan tubuhnya. Bukanlah artinya dia takut akan hukum alam yang nantinya menggerogoti keistimewaannya itu. Tidak, tidak sama sekali. Ia hanya ingin tahu saja bagaimana seluk-beluk perubahan itu terjadi. Mengetahui secara detil tentang sesuatu akan sangat berguna untuk menyingkirkan ketakutan akan perubahan menjadi nampak tua. 

Drupadi tahu betul tentang sekujur tubuhnya. Semua bahan kecantikan yang ia gunakan nampak betah dan bahagia menempel di kulit wajahnya. Tiap gaun yang digunakannya nampak serba tepat dan menyegarkan mata kendatipun sederhana. Bilang saja Drupadi adalah sosok dengan tubuh yang memilki relasi seolah kembaran dengan tubuh alam, tubuh kehidupan itu sendiri. Pengetahuan tentang tubuh sama halnya merupakan sebuah penghormatan bagi kehidupan, itulah prinsip Drupadi. Tak tanggung-tanggung, pengetahuannya tentang tubuh itu merupakan sebuah rajutan atau kelitkelindan antara unsur geometrik – anatomik - spiritualistik. 

Begini. Drupadi tak pernah makan kuliahan seperti halnya para cerdik-pandai di Academia Plato yang dengan canggih mengutak-atik soal geometri, anatomi, dan spiritualistik-kosmik ala Pythagoras. Jangan bawa Drupada hingga ke sana karena dia seorang yang mampu berabstraksi walau tanpa wadah yang disebut-sebut sebagai lembaga pengetahuan sangat bergengsi seperti itu. 

Pengamatannya yang cermat mendetil setiap hari membuatnya tajam mengetahui jarak antara semua unsur yang berdiam dalam tubuhnya apalagi wajahnya, dengan tak lupa menyinggung soal gumpalan daging, dan ruas-ruas tulang, lengkap dengan kelembaban dan kelembutan kulitnya, sekaligus dengan kesadaran bahwa suatu ketika itu akan berubah menjadi sesuatu yang lain. Bahkan hal-hal kecil di wilayah luaran dan dalaman vaginanya pun tak luput dari pengamatan tajamnya sendiri. Tubuh tak lain adalah ritus kehidupan dan hak yang tak mungkin direnggut oleh siapa pun, maka jangan luput sedikitpun oleh kesadaran pemiliknya sendiri. Ketahuilah sekecil-kecil mungkin tentang tubuhmu, demikian yang menancap dalam kesadaran Drupadi.

Di negeri Jancukers, Drupadi menjadi bidikan semua orang, perempuan maupun laki-laki, tak mengenal usia. Drupadi sosok yang dikagumi, disegani, diimajinasikan dengan berbagai cara terutama oleh para hidung belang hingga banyak pejabat tinggi.

Suatu hari Drupadi kesal dan dongkol bukan kepalang. Dia tak mampu menahan diri lagi untuk menyeruak masuk ke kerumunan orang yang tengah bertaruh untuk memperebutkannya menjadi istri bagi sang pemenang. Siapa yang berhak atas dirinya? Tubuhnya? Kekuasaan apa yang begitu sinting secara terang-terangan hendak memperkosa hak tubuhnya dengan taruhan?

Sekali lagi, Drupadi adalah sebuah kesadaran kosmik yang kebetulan bisa menginjak dan menapaki bumi keseharian. Dia mencoba mengamati gerak kosmik dan mengikuti ke mana arahnya dengan sabar. Dia mencoba menelusuri logika laki-laki yang senantiasa menggumpal kaku di phalusnya yang ia pahami sebagai “logika falus”, logika yang hanya ingin menyerang, mempenetrasi, dan menguasai. Tapi sampai di mana kekuatannya? Drupadi malah tak kuatir dengan itu semua. Dia mencoba mengalihkan kesan mengancam menjadi sebuah kesempatan. Dia hanya bersandar pada pengetahuan dan rasa penasaran untuk menelusuri arus nalar laki-laki, selayaknya membiarkan diri terbawa arus sungai yang kadang bertemu dengan air terjun yang membahayakan.

Perjalanan arus sungai itu membawa Drupadi pada berbagai pengalaman yang memberikan warna-warni dalam kehidupan negri Jancukers. Drupadi cukup paham sudah dengan nalar dan heroisme laki-laki. Mereka tetaplah sebagai sosok-sosok yang dibekali oleh mitos keperkasaan yang kendati lembek. Hingga hitungan seluruh jari sebuah tangan, Drupadi merasa laki-laki ternyata biasa saja, mudah dikolonin, dibohongi, digertak, dielus, terharu, dan meneteskan air mata.

Suatu hari, seorang yang dengan suara berat dan tegas bertanya, “junjunganku Drupadi, sebenarnya laki-laki seperti apakah yang kau cari dalam hidup ini? Bukankah sudah cukup mereka yang hidup denganmu?” Drupadi tersenyum dan menjawab lembut, “Mungkin masih ada sebuah arus sungai yang ingin kutelusuri, yaitu arus sungai presidenmu....” Laki-laki itu sejenak terperangah dan mendesis, “Baiklah akan saya hantarkan keinginan junjungan putri pada presiden saya, “Presiden Jancukers”, singkatannya “Prescuk”.