MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Politik Absurd

Aura Asmaradana
  Friday, October 13, 2017

Jalanan adalah panggung. Terutama untuk memanggungkan hal-hal yang tidak dapat dibawa ke ruang-ruang birokrasi—tempat ruh demokrasi seharusnya bersemayam. Selama ini, demonstrasi adalah tempat subur untuk teater jalanan. Selalu disediakan tempat dan waktu bagi para pekerja seni untuk menyuarakan protes. Atas nama seni? Tentu saja. Tapi pun—tidak jarang—atas nama politik di Indonesia yang semakin absurd: politisi tidak memikirkan hal-hal yang melampaui kepentingan temporal pribadi maupun golongan masing-masing; paradigma balik modal dalam berpolitik yang mendorong tindakan korup; perebutan kekuasaan, dan hal-hal semacam itu.

Selama ini, ‘aksi teatrikal’ sering sekali masuk dalam bewara demonstrasi. Itu berarti, bagi sebagian orang, teater mampu menyuarakan yang tak dapat diungkapkan oleh orasi atau maklumat politis. Meski bagi sebagian orang lain, bisa jadi teater hanya sekadar hiburan. Boleh sepakat atau tidak, situasi politik yang absurd itu tanpa sadar telah jadi berkah untuk panggung teater absurd—terutama di jalanan.

Bagi para absurdis, hidup adalah parodi, lelucon konyol yang pesimistik dan menggambarkan alienasi. Sayangnya, tidak semua orang bisa meletakkan hal macam itu di kepala. Mayoritas pemanggungan—bahkan di jalanan yang terkesan tanpa aturan—masih terpaku pada sistem berpikir barat tentang the ultimate reality. Tokoh baik ditindas. Diseret-seret makhluk berpupur tebal dengan hati yang membatu. Di panggung jalanan, aksi teatrikal justru seringkali jatuh pada panggung generasi pra-realisme yang menggambarkan tokoh-tokoh besar sebagai hitam dan putih.

Absurditas politik di Indonesia paling tidak membantu kita memahami hal-hal yang sebelumnya tidak terjamah oleh akal: merajalelanya korupsi, eh, mereka yang terbukti korupsi kemudian mangkir, atau komisi anti-rasuahnya dihajar secara subjektif oleh gerombolan koruptor. Ada juga pelanggaran-pelanggaran HAM yang tidak kunjung selesai; yang secara tidak langsung, konon sudah terbayar dengan adanya pembangunan yang masif.

Dengan kata lain, hanya dengan mengamati dinamika politik negeri sendiri, pekerja panggung di Indonesia bisa jadi absurdis yang kaffah. Panggung absurd seperti yang diajukan Beckett, Ionesco, atau Pinter menjadi lahan eksplorasi karena politik mengajarkan cara mengabaikan logika. Logika bisa diutak-atik, tak ada struktur yang rigid, sekaligus bisa lebih bermain-main dengan majas-majas puitik dan simbol-simbol.

Jalanan adalah panggung. Jalanan adalah pula ruang diskursif. Terutama untuk memperbincangkan hal-hal serius dalam bentuk simbol dengan pola irama yang tragis. Bersyukurlah bahwa politik kita sedang dalam keadaan absurd!