MY CART


You have 0 item's in your cart.

SUBTOTAL0
CHECK OUT
0

Perempuan yang Terlibat

Aura Asmaradana
  Friday, October 13, 2017

Statistik yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) per 29 Februari 2016 menayangkan info bahwa KPK telah melakukan penyelidikan sebanyak 769 perkara: penyidikan 483 perkara, penuntutan 397 perkara, in kracht 323 perkara, dan eksekusi 343 perkara. Dalam data itu, setidaknya terdapat 48 perempuan yang pernah terlibat kasus korupsi (Perempuan dalam Bayang-bayang Jerat Korupsi, Kompas.com - 22/04/2016).

Memang sulit bicara korupsi dalam term seks: laki-laki atau perempuan. Dalam bentuk bagaimana pun, pelakunya siapa pun, korupsi adalah mimpi buruk bagi bangsa yang berkeadaban. Meski pun, masih saja ada berita dengan tajuk “Sekian Perempuan Cantik yang Tertangkap Korupsi”—seolah-olah kecantikan sudah pasti saling memunggungi dengan korupsi.

Perempuan maupun laki-laki yang ditangkap karena korupsi adalah sama. Kita sering lihat, mereka bisa cengengesan seenak udel di hadapan masyarakat luas yang haknya mereka bawa lari. Korupsi saja sudah menunjukkan hilangnya simpati dalam diri manusia, apalagi senyum-senyum bak tidak punya salah? Negara rugi, penjara penuh. Soal korupsi ini, sudah barang tentu kita harus peduli. Kita sebagai manusia perlu prihatin.

Prihatin

Bukankah senyum itu adalah cara mempertahankan citra baik, meski sudah terciduk? Bukankah senyum itu menjadikan korupsi jadi kekerasan banal—dalam terminologi Hannah Arendt—dan tak lagi punya kesadaran dan nurani? Kita semua tentu sepakat bahwa tersenyum di atas penderitaan orang lain itu tindakan gila.

Kalau kita bicara mengenai perempuan dan ketertindasannya, mungkin dewasa ini poin yang tepat untuk dikaji adalah ketertindasan kita oleh tiadanya keprihatinan. Oleh sistem yang terlampau besar, kita dituntut untuk menciut, memikirkan diri sendiri saja, tanpa peduli pada hajat hidup orang banyak.

Jika menjadi perempuan Indonesia adalah berarti menjadi Manusia (Ya, dengan M besar), maka kita pantas khawatir kalau korupsi kelak akan mengikis identitas itu. Itu mengapa saya pikir bahwa—untuk kembali pada garis haluannya—satu-satunya jalan perempuan Indonesia adalah menjadi pemberontak; menjadi perempuan pemberontak. Untuk itu, bolehlah kita pinjam konsep pemberontakan Albert Camus.

Pemberontakan merupakan satu hal yang digunakan untuk melawan penindasan—yang tak muncul hanya dalam bentuk verbal. Korupsi adalah penindasan dalam bentuk yang paling smooth. Kita telah tertindas oleh suatu bangunan besar yang tak kasat mata; yang mendominasi cara berpikir dan bertindak individu.

Koruptor adalah manusia yang pasrah terhadap dominasi ekstrinsik. Koruptor adalah orang-orang yang tak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Hanya lewat pemberontakan, ketegasan martabat manusia dapat ajeg. Begitu pun halnya dengan solidaritas, persahabatan, keadilan, pembebasan, bahkan keindahan. Pemberontakan adalah sebuah ide kompleks yang menggambarkan sebuah etika, aturan, sekaligus tindakan-tindakan. Yang pasti, pemberontakan yang saya maksud adalah sebuah anti-corruption waves yang sifatnya eksistensiil.

Pemberontakan Perempuan Indonesia

Perempuan—sebagai bagian dari peradaban—mesti dipandang dalam rangka kapan, di mana, bagaimana, dan dengan siapa ia hidup. Hal-hal itu yang menyebabkan setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda. Dalam konteks Indonesia—di tengah gencatan haus tahta dan harta yang mendominasi—perempuan harus bersikap layaknya seorang pemberontak.

Bagi saya, untuk keluar dari ketertindasan, kita harus melampaui dominasi. Pertemuan hasrat manusia dan realitas pertama-tama harus diterima. Kita harus bilang “ya” terhadap mengguritanya suatu sistem yang memaksa kita untuk tunduk pada kapital; untuk melakukan segala cara supaya dapat hidup enak. Ketika manusia diam-diam menghasrati tahta, bahkan menganggapnya sebuah obsesi, kita harus berkata “ya” terhadap perasaan itu. Usaha itu adalah semacam penerimaan atas yang tak terelakan: bahwa kita bisa hanyut dalam dominasi ekstrinsik.

Sementara, di saat bersamaan manusia juga perlu mengatakan “tidak” untuk menolak hanyut dalam arus. Dengan menidak pada realitas yang sadis, manusia lepas dari dominasi sambil berusaha memperjuangkan humanisme universal yang paling konkrit.

Mungkin pemberontakan adalah konsep klise. Tapi, pemberontakan akan membawa ruang refleksi kita. Mengembalikan nurani—kalau-kalau ia sempat hilang.

Manusia Indonesia yang memberontak adalah mereka yang memberi nilai pada setiap tindakannya. Menjadi perempuan Indonesia yang rebel adalah berarti menjadi mandiri dan menemukan nilainya sendiri.

Kembali ke diri adalah sebuah nilai fundamental bagi manusia tanpa batasan jenis kelamin. Meski sebetulnya di tempat yang terkungkung budaya patriarki, kita mesti bersuara lebih keras soal hal ini—mengingat adanya kotak-kotak soal perempuan dan bukan perempuan; cantik dan tidak cantik dalam tindak korupsi.